Kuliner darah yang konon mak nyusss

Kuliner darah…??? iya, jenis kuliner ini banyak didapati di sebagian angkringan atau warung-warung tradisional dijawa, terbuat dari darah hewan yang ditampung, dicampur air lalu diberi garam agar membeku kemudian digoreng, konon rasanya mak nyuusss…namanya “Saren”. Di sebagian daerah lain disebut “Marus”.

Sebagian manusia tidak mau ketinggalan mengexpresikan kreativitasnya (baca : tipu dayanya) lalu mengolah darah dalam format “Sosis darah” adapula “Tepung darah”. Sebagian lain memasak “Sasang” sejenis gulai dengan kuah darah. Yang tidak kalah ngeri ada yang mengkonsumsi darah ular kobra mentah-mentah untuk menambah vitalitas, dalam hati bertanya, para konsumen kuliner jenis ini manusia apa drakula sih…??? atau vampire…??? atau grandong…??? atau buto ijo…??? atau buto rambut geni…???

Semenjak saya kecil saya diberitahu oleh para guru ngaji disurau kampung saya bahwa saren/kuliner yang terbuat dari darah ini haram hukumnya, saya mengira bahwa masyarakat pada umumnya juga menganggap haramnya saren ini. Kala itu dengan keluguan seorang santri TPA saya berjanji dalam hati tidak akan pernah sekalipun memakannya meskipun ketika itu saya tidak tahu dalil pengharamannya.

Dikemudian hari tahulah saya bahwa yang menjadi dalil haramnya darah adalah firman Allah subhanahu wata’ala, “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi  karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  (surat Al an’am : 145).

Seiring berjalannya waktu, keyakinan akan haramnya saren ini sedikit terusik manakala saya menyaksikan sebuah video pengajian berdurasi pendek, dimana sang Ustadz sebagai pematerinya menyatakan halalnya saren/ kuliner darah ini, beliau berargumen bahwa darah yang diharamkan dalam ayat tadi adalah darah yang mengalir/damman masfuuhan. Adapun saren ia sudah membeku (berupa benda padat) tidak mengalir lagi jadi halal hukumnya & yang diharamkan hanyalah darah yang mengalir (yang berupa cairan). Kemudian beliau menyatakan bahwa ini adalah ketetapan al qur’an barangsiapa menyelisihinya maka ia adalah penyeru-penyeru jahannam.

Merinding & terbengong-bengong saya menyaksikan pengajian tersebut, dengan kapasitas seorang yang pernah menyelesaikan jenjang pendidikan S3 = SD, SMP, STM, yang mendapati perkataan yang berbalik 180 derajat dari apa yang sudah saya yakini semenjak kecil, saya tidak begitu saja membenarkan pernyataan sang Ustadz. Beberapa hari sejak hari itu saya mulai mengumpulkan informasi tentang hukum sebenarnya dari saren ini.

Langkah pertama yang bisa saya lakukan adalah bertanya, saya bertanya kepada salah satu juru dakwah yang ada di mesir, beliau bernama Syaikh Saamih Abbas yang pernah berguru kepada Al Imam Ibnu Baz & Al Imam Ibnu Utsaimin. Agar lebih proporsional maka saya cantumkan redaksi pertanyaan & jawabannya di sini :

 

السؤال : بعض الناس عندنا في أندونيسيا يحللون الطعام المصنوع من الدم ، لأن الذي حرمه الله هو الدم  المسفوح أي الجاري كما هو المقرر في سورة الأنعام 145 . أما الطعام المصنوع من الدم لم يكن مسفوحا فيجوز أكله حينئذ …. ما هو الحكم الشرعي في تناول مثل هذا الطعام … ؟؟؟

Pertanyaan : Sebagian manusia dinegara kami di Indonesia, menghalalkan makanan yang terbuat dari darah, karena yang diharamkan oleh Allah adalah damman masfuuhan/darah yang mengalir sebagaimana tercantum dalam surat Al An’am 145. Adapun makanan yang terbuat dari darah kan tidak mengalir maka boleh dikonsumsi ketika itu…apa sebenarnya hukum syar’i mengkonsumsi makanan seperti ini…???

الجواب :

الحمد لله

نعم ، الدم المحرم أكله هو الدم المسفوح ، لقول الله تعالى : (قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ) الأنعام/145 .

 

والدم المسفوح هو الذي يسيل ، كالدم الخارج من الذبيحة بعد ذبحها ، فهو دم مسفوح نجس، حرام أكله .

فلو أُخذ هذا الدم وجُمِّد وصنع منه طعامٌ فإنه حرام ، لأن تجمده وتصنيعه لا يخرجه عن كونه مسفوحاً في الأصل .

إلا إذا تغيرت صفاته بالكامل نتيجة لعملية التصنيع ، وتحول إلى مادة أخرى غير الدم ، لها صفاتها المختلفة عن صفات الدم .

فهنا يرد فيه خلاف بين العلماء : هل تَحَوُّل المادة الخبيثة النجسة المحرمة إلى مادة أخرى ليست خبيثة ، هل هذا التحول يطهرها ويحلها أم لا ؟ وهي مسألة خلافية عند العلماء ، والصحيح من أقوالهم أنها تطهر وتحل ، لأن المادة المحكوم عليها بالخبث والنجاسة والتحريم قد زالت ولم تعد موجودة ، إلا إذا كان استعمال هذه المادة في الطعام يسبب أضراراً للإنسان ، فتحرم بسبب الضرر لا بسبب النجاسة .

 

أما الدم غير المسفوح فهو الذي يسيل ولا يراق ، كالكبد ، والطحال ، وكذلك الدم الباقي في عروق الذبيحة وقلبها بعد الذبح ، فإنه لا حرج في أكله لأنه ليس مسفوحاً ، ولهذا لو طبخ اللحم وخرج ما فيه من دم وطاف على وجه المرق لم يحرم شربه ، وقد ورد عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت : كنا نأكل اللحم والدم خطوط على القدر .

والله أعلم .

 

كتبه : سامح عباس الغنيمي .

الأحد 17 من ذي الحجة 1432 هـ ، الموافق : 13 من نوفمبر 2011 م .

Jawaban : Alhamdulillah, Iya darah yang haram adalah darah yang mengalir berdasarkan firman Allah ta’ala, “Katakanlah : “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi  karena sesungguhnya semua itu kotor”.  (surat Al an’am : 145).

Dammun masfuh adalah darah yang mengalir seperti darah yang keluar dari hewan yang disembelih, maka ia adalah darah yang masfuh yang haram untuk dimakan.

Seandainya darah ini diambil lalu dipadatkan & dibuat makanan maka ia haram, karena pemadatannya & proses pembuatannya tidak mengeluarkannya dari kategori darah yang mengalir secara asal.

Kecuali jika sifat darah ini berubah secara total dikarenakan sebuah proses, lalu berubah menjadi zat lain yang bukan darah yang memiliki sifat yang berbeda dengan sifat darah, kalau seperti ini keadaanya maka ada perbedaan dikalangan para ulama : apakah zat yang kotor, najis & haram bisa berubah menjadi zat yang tidak kotor, apakah perubahan ini menyebabkannya menjadi halal & suci ataukah tidak…??? ini adalah permasalahan yang diperselisihkan para ulama.

Dan yang benar adalah perubahan zat tersebut (perubahan yang total yang membuat suatu zat berubah menjadi zat lain) bisa membuat halal & suci, karena zat yang dihukumi najis & kotor tersebut sudah hilang, kecuali jika mengkonsumsi zat ini mengakibatkan adanya madhorot pada manusia maka ia menjadi haram karena kemadhorotannya bukan karena kenajisannya

Adapun dammun ghoiru masfuh/darah yang tidak mengalir adalah darah yang mengalir akan tetapi tidak ditumpahkan (dengan cara isembelih)seperti hati & limpa, demikian pula darah yang tersisa pada urat hewan sembelihan maupun pada jantung setelah disembelih. Yang seperti ini tidak apa-apa dimakan karena ia bukan darah yang masfuh, oleh karenanya seadainya daging dimasak lalu keluar darah yang bercampur pada kuah maka tidak diharamkan meminumnya & telah diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, “Dahulu kami memakan aging & sisa darah yang ada pada kuali”. Wallahu a’lam

Di tulis oleh Samih abbas al ghunaimy

Ahad 17 dzulhijjah 1432H/13 november 2011

Ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan setelah membaca jawaban ini diantaranya :

1- Darah yang keluar akibat proses penyembelihan adalah termasuk kategori dammun masfuh yang kotor & haram, seandainya darah ini dipadatkan & dibuat makanan maka tetap haram karena perubahannya bukan perubabahan yang total yang mengeluarkannya dari kategori darah.

2- Taruhlah memang yang diharamkan adalah seluruh darah yang mengalir (berupa cairan bukan padat) maka ini memberikan konsekwensi haramnya darah yang tersisa dalam urat atau jantung hewan yang disembelih yang masih berupa benda cair, dan ini adalah sebuah kesalahan besar, karena banyak sekali riwayat yang menyatakan halalnya darah yang tersisa dalam urat-urat hewan setelah proses penyembelihan, salah satunya riwayat yang terdapat di akhir jawaban Syaikh Saamih, Silahkan cek tafsir Ath Thabary 9/633-635 Tahqiq Syaikh Abdul Muhsin At Turky.

3- Seandainya memang kesimpulan Syaikh Samih Abbas ini keliru (kenyataanya tidak demikian insya’Allah) maka mengkonsumsi kuliner darah tetap saja haram karena mengkonsumsi darah adalah perbuatan yang mendatangkan madhorot secara medis (karena konon katanya mengkonsumsi darah ini mengakibatkan efek buruk bagi kesehatan, tentunya ahli medis yang lebih tahu tentang hal ini) jadi ia diharamkan karena kemadhorotannya bukan karena kenajisanya.

Untuk membuat hati lebih tentram saya nukilkan fatwa tentang hukum memakan daging hewan yang diberi makan dengan pakan ternak yang terbuat dari darah (namanya pakan tentu berupa benda padat bukan cair) berikut nukilan fatwa tersebut :

Pertanyaan : Apa hukum mengkonsusmsi ayam yang diberi makan dengan pakan ternak yang tercampur dengan dammun masfuh (darah yang mengalir akibat proses sembelihan) berikanlah kami manfaat semoga Allah memberikan engkau manfaat.

Jawaban : Alhamdulillah wash sholatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi washohbihi amma ba’du.

Darah yang masfuh atau darah yang tertumpah akibat proses sembelihan adalah najis berdasarkan kesepakatan para ulama, Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah : “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir”. (surat Al an’am : 145).

Berkata Ibnu Jarih, “Yang mengalir maksudnya adalah yang ditumpahkan, tidak mengapa dengan darah yang ada di urat hewan tadi” Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir.

Apabila darah ini (darah yang mengalir) dijadikan pakan ternak maka najis, jika binatang ternak seperti ayam atau kambing atau sapi diberi makan dengan pakan ternak yang terbuat dari darah yang mengalir seperti ini maka ia adalah binatang jalalah yang tidak boleh dimakan meskipun disembelih dengan penyembelihan yang syar’i.

Kecuali setelah diberi makan dengan pakan yang tidak najis yang akan mensucikan dagingnya (dikarantina terlebih dahulu) lalu disembelih maka tidak mengapa. Sungguh Rasulullah telah melarang memakan keledai jinak & binatang jalalah diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’i & Abu Dawud.

Binatang jalalah adalah binatang yang halal dagingnya tapi ia memakan benda-benda najis sampai berubah baunya, dan ayam yang kamu tanyakan yang telah diberi makan dengan pakan ternak dari darah yang mengalir adalah termasuk binatang jalalah yang najis dagingnya yang tidak halal dikonsumsi wallahu a’lam. Fatwa no 7708 lihat tautan berikut :

http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7708.

Coba kita renungkan bersama, hewan yang mengkonsumsi makanan yang terbuat dari darah yang mengalir, perhatikan baik-baik “pakan yang terbuat dari darah yang mengalir” tentu pakan ini berupa benda padat akan tetapi terbuat dari darah yang memancar/tertumpah akibat proses penyembelihan. Hewan yang mengkonsumsi pakan seperti ini haram dimakan, apalagi jika kita yang memakan langsung makanan yang terbuat dari darah yang mengalir…

Bahkan Hai’ah kibarul ulama/perhimpunan ulama besar kerajaan saudi arabia dalam situs resminya menukilkan fatwa dari Syaikh Husnain Muhammad Makhluf yang menyatakan bahwa perbuatan menampung darah dari hewan sembelihan lalu memakannya adalah perbuatan oranga-orang jahiliyyah jaman dulu, lihat :

http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=1&View=Page&PageNo=1&PageID=231

Wallahu ‘alam, semoga bermanfaat & akhir dari seruan kami adalah anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Abul aswad al bayaty

Jokja, 26 muharram 1433/21 desember 2011

Jadwal kajian umum di klaten


A.   
Masjid Al Ittiba’ Tlogorandu Juwiring

Hari                 : Setiap Hari Ahad
Jam                 : 07.00 – 08.30
Materi            :
–  Manhaj Ahlussunnah dalam Tarbiyah Umat (Ahad Pekan 1,3,4,5)
–  Ushuluts Tsalatsah (Ahad Pekan 2)
Pemateri       : Ust. Abdurrahman Ahmad
CP                    : 081 548 402 244
Untuk             : Putra dan Putri
B.    Masjid Ar Rahmat Tlobong Delanggu
Hari                 : Setiap Hari Ahad
Jam                 : 07.00 – 08.00
Materi            : Hadits, Fiqh, Akhlaq dan Adab, Tafsir, Manhaj
Pemateri       :
–  Ust. Rahmad Supriyadi, Lc (Ahad Pekan 1)
–  Ust. Nurkholis, Lc (Ahad Pekan 2)
–  Ust. Kholid Syamhudi, Lc (Ahad Pekan 3)
–  Ust. Abdurrahman Ahmad (Ahad Pekan 4)
–  Ust. Abu Hasan, Lc (Ahad Pekan 5)
CP                    : 085 629 609 71
Untuk             : Putra dan Putri
C.    Masjid Asy Syifa’ RSI Klaten
Hari                 : Ahad 2 & 4
Jam                 : 10.00 – Dhuhur
Materi            :
–  Al Arba’un Nawawiyah (Ust. Rohmat Ibnu Shodri) = Ahad Pekan 2
–  Al Firqatun Najiyah (Ust. Mubarok) = Ahad Pekan 4
CP                    : 081 329 065 060
Untuk             : Putra dan Putri
D.   Masjid Al Ma’ruf Depan TB Inti Besi Srago
Hari                 : Setiap Hari Ahad
Jam                 : 19.30 – Selesai
Materi            : Manhaj Ahlussunnah dalam Tarbiyah Umat
Pemateri       : Ust. Abdurrahman Ahmad
CP                    : 0272 9022 663
Untuk             : Putra
E.    Masjid Al Bajuri Njalen, Paseban, Bayat
Hari                 : Ahad Pekan 1,2,3,4
Jam                 : 20.00 – Selesai
Materi            :
–  Lum’atul i’tiqod (Ust. Amirul mu’minin).
–  Shahih Fiqih Sunnah (Abdul Hadi bin Hadi).
– Al Wajibat (Ust. Andri).
– Kitab tauhid (Ust. Muhammad abu hamdan).
CP                    : 085 629 809 40
Untuk             : Putra
F.    Masjid KPK samping SMK Muhammadiyah Barepan, Cawas
Hari                 : Tiap Hari Senin, Selasa dan Jum’at
Jam                 : 20.00 – Selesai
Materi            : Bahasa Arab (Mulakhas qawa’id lughah arabiyyah).
Pemateri       : Abdul Hadi bin Hadi
CP                    : 081 578 506 253
Untuk             : Putra
G.   Masjid Al Hikmah Tlogorandu, Juwiring
Hari                 : Tiap Hari Selasa dan Jum’at
Jam                 : 20.00 – 21.30
Materi            : Kitab Tauhid
Pemateri       : Ust. Muhammad Wasitho, Lc
CP                    : 081 548 402 244
Untuk             : Putra
H.   Masjid Al Firdaus Surdanan, Danguran
Hari                 : Setiap Hari Rabu
Jam                 : 16.00 – 17.00
Materi            : Fiqih Wanita Muslimah
Pemateri       : Ust. Abu Hilyah Ahmad
CP                    : 081 329 000 893
Untuk             : Putri
I.      Masjid Nurul Mukminin Pendem Bawak, Cawas
Hari                 : Setiap Hari Kamis Pekan 1,2,3,4
Jam                 : 19.30 – 21.00
Materi            :
–  Al qoulul mubin fi akhto’il mushollin( Abdul hadi) = Kamis Pekan 1
–  Al Aqidah Al wasithiyah (Ust. Abu Yusuf) = Kamis Pekan 2
–  Tematik (Ust. Amirul mu’minin) = Kamis Pekan 3
–  Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah (Ust. Musthofa Ahmad, Lc) = Kamis Pekan 4
CP                    : 085 747 974 454
Untuk             : Putra
J.     Rumah Bapak Yono Pendem Bawak, Cawas
Hari                 : Setiap Hari Jum’at
Jam                 : 14.00 – 15.00
Materi            : Al Adabul mufrad
Pemateri       : Abdul Hadi bin Hadi
CP                    : 085 643 195 431
Untuk             : Putri
K.    Masjid Al Huda Ketandan, Klaten
Hari                 : Setiap Hari Jum’at
Jam                 : Ba’da Maghrib – Isya’
Materi            : Perbaikan Bacaan Al Quran
Pemateri       : Ust. Abu Abdillah
CP                    : 081 329 065 060
Untuk             : Putra
L.     Rumah Bapak Yoko Ketandan, Klaten
Hari                 : Setiap Hari Sabtu
Jam                 : 13.00 – 15.00
Materi            : Bahasa Arab Dasar
Pemateri       : Ust. Hasan Sunardi
CP                    : 081 329 065 060
Untuk             : Putra & Putri

Sang Raja dari Segala Tanaman

Bismillahirrahmanirrahim,

Allah ta’ala seringkali memberikan perumpamaan di dalam Al qur’an lalu berfirman,

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Yang maknanya: “Dan itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami tunjukkan pada manusia & tidaklah memahami perumpamaan tersebut kecuali orang yang berilmu”. (QS Al ‘ankabut: 43).

Para pendahulu kaum muslimin dari kalangan orang-orang yang shalih apabila tidak mampu memahami perumpamaan yang diberikan oleh Allah mereka menangis tersedu-sedu sembari berujar, “Alangkah malangnya nasibku, aku bukan termasuk orang yang berilmu”. (Al Kaafiyah Asy Syaafiyah : 9 oleh Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah).

Diantara perumpamaan yang Allah berikan kepada manusia adalah apa yang tersebut di dalam surat Ibrahim,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ  [24] تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُون

Yang maknanya: “Apakah kalian tidak memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya kokoh & cabangnya menjulang kelangit (24) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim : 24-25). Continue reading

Manusia Purba yang Terdampar di Abad 21

Demikianlah julukan yang disematkan kepada orang-orang yang berusaha untuk berkomitment menghidupkan kembali ajaran-ajaran agama islam yang dewasa ini sudah banyak ditinggalkan. Mereka dianggap sebagai manusia purba, orang-orang yang aneh, asing, jumud, kolot, bodoh & tidak mengikuti perkembangan zaman. Entah apa yang menyebabkan orang-orang tersebut merasa gerah dengan ajaran islam yang ditampakkan, padahal secara finansial mereka tidak dirugikan.

Beberapa kali penulis mendengar seorang yang entah karena faktor apa menyatakan tidak suka dengan orang-orang yang memanjangkan jenggotnya. Lalu berkata “Kita tidak usah berpenampilan ke arab-araban”, lain waktu mengatakan, “Agama itu tidak terletak pada tampilan rambut & jenggot”, lain waktu menyatakan, “Kenapa kita meributkan masalah jenggot padahal orang kafir sudah sampai ke bulan”. Continue reading

Sepenggal Catatan di Bulan Sya’ban

Kenapa dinamakan bulan Sya’ban?

Sya’ban secara bahasa artinya berpencar atau berpecah, karena konon bangsa arab pada bulan ini sibuk berpencar ke berbagai arah dalam rangka mencari air, hal ini pulalah yang di isyaratkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘asqolany, beliau berkata, “Dinamakan bulan sya’ban karena kesibukan bangsa arab didalam mencari air setelah selesainya bulan rajab, ada pula yang menyatakan dikarenakan sebab lain”. (Fathul bari : 4/251).

Amalan di bulan Sya’ban

Ada beberapa amalan atau serangkaian ibadah yang dilaksanakan di bulan sya’ban, karena memiliki sandaran dari al qur’an ataupun sunnah Nabi/hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, diantara amalan-amalan tersebut adalah :

1- Mengqodho’ puasa yang terlewat di ramadhan sebelumnya.

Barangsiapa memiliki hutang puasa hendaknya segera mengqodho’nya, meskipun boleh mengakhirkan tetapi yang disukai adalah bersegera berdasarkan firman Alloh ta’ala:

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Yang maknanya: “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (QS Al Mu’minun 61). Continue reading

Aku Tidak akan Menikahimu -Part 1-

Para pembaca yang budiman, beberapa waktu yang lalu penulis mendapatkan kabar  yang tertulis via email yang justru membuat hati penulis teriris-iris pedih. Bagaimana tidak karena ada seorang muslimah yang mencintai pamannya (adik ibunya) & ingin menikah dengannya, padahal ibunya tidak merestuinya, sang ibu menolak bukan karena tahu bahwasanya seseorang itu haram menikah dengan anak saudaranya, akan tetapi dikarenakan sebab lain.

Kemudian muslimah tadi melarikan diri & menikah dengan pamannya dan sudah memiliki anak, dan wanita muslimah tadi meminta saran apa yang seharusnya dilakukan karena ia ingin meminta maaf pada ibunya.

Sampai sejauh ini penyimpangan yang terjadi dan kesemuanya tidak terlepas dari eksistensi kejahilan yang banyak menimpa masyarakat kaum muslimin hari ini. Karena jauhnya kita dari majlis-majlis ilmu.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Yang maknanya: “Ya Allah sesungguhnya kami telah menzalimi diri-diri kami, apabila Engkau tidak mengampuni & menyayangi kami, niscaya kami adalah termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al A’raf : 23). Continue reading

Aku Tidak akan Menikahimu -Part 2-

Para pembaca yang budiman, masih segar dalam ingatan kita kisah seorang kyai yang memiliki istri lebih dari tujuh, entah faktor apa yang melatarbelakangi keinginan kyai tersebut yang notabene memiliki pengetahuan agama berlebih dibandingkan rata-rata orang untuk memiliki istri dengan jumlah angka yang cukup menggemparkan banyak media massa. Sang kyai-lah yang tentunya mengetahui faktor tersebut disamping juga Allah Dzat Yang Maha Mengetahui seluruh apa yang tersimpan di dalam dada manusia.

Setelah berlalu pembicaraan kita tentang wanita-wanita yang haram dinikahi secara permanen, maka tibalah saatnya kita ulas dengan sangat sederhana pembicaraan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi dengan sifat keharaman yang temporal/haram dalam jangka waktu tertentu, mereka adalah : Continue reading